Kamis, 06 Januari 2011

Konseling rasional emotif behaviour terapi

PENDEKATAN RATIONAL EMOTIF BEHAVIOUR TERAPI
A. Konsep Dasar
Menurut Albert Ellis, manusia pada dasarnya adalah unik yang memiliki kecenderungan untuk berpikir rasional dan irasional. Ketika berpikir dan bertingkahlaku rasional manusia akan efektif, bahagia, dan kompeten. Ketika berpikir dan bertingkahlaku irasional individu itu menjadi tidak efektif. Reaksi emosional seseorang sebagian besar disebabkan oleh evaluasi, interpretasi, dan filosofi yang disadari maupun tidak disadari. Hambatan psikologis atau emosional tersebut merupakan akibat dari cara berpikir yang tidak logis dan irasional, yang mana emosi yang menyertai individu dalam berpikir penuh dengan prasangka, sangat personal, dan irasional.
Berpikir irasional ini diawali dengan belajar secara tidak logis yang biasanya diperoleh dari orang tua dan budaya tempat dibesarkan. Berpikir secara irasional akan tercermin dari kata-kata yang digunakan. Kata-kata yang tidak logis menunjukkan cara berpikir yang salah dan kata-kata yang tepat menunjukkan cara berpikir yang tepat. Perasaan dan pikiran negatif serta penolakan diri harus dilawan dengan cara berpikir yang rasional dan logis, yang dapat diterima menurut akal sehat, serta menggunakan cara verbalisasi yang rasional.
REBT lebih banyak kesamaannya dengan terapi-terapi yang berorientasi pada kognitif-tingkah laku-tindakan dalam arti ia menitikbertkan berfikir,menilai,memutuskan,menganalisis,dan bertindak.REBT sangat didaktik dan direktif serta lebih banyak berurusan dengan dimensi-dimensi pikiran ketimbang dengan dimensi-dimensi perasaan.
B.     Pandangan Tentang Manusia
Teori Rasional Emotif Behaviour Terapi adalah aliran yang berlandaskan asumsi bahwa manusia dilahirkan dengan potensi, baik untuk berfikir rasional dan jujur maupun berpikir irasional atau jahat. Manusia memiliki kecenderungan untuk memelihara diri, berbahagia, berpikir dan mengatakan mencintai, bergabung dengan yang lain serta tumbuh dan mengaktualkan diri dan manusia juga mempunyai kecenderungan untuk berbuat yang sebaliknya serta manusia juga mempunyai kecenderungan untuk terpaku pada pola-pola tingkah laku lama yang fungsional dan mencari berbagai cara untuk terlibat dalam sabotase diri.
Manusia tidak ditakdirkan untuk menjadi korban pengkondisian awal. REBT menegaskan sumber-sumber yang tak terhingga bagi aktualisasi potensi-potensi dirinya dan bisa mengubah ketentuan-ketentuan pribadi dan masyarakatnya,menuru REBT manusia dilahirkan dengan kecendrungan untuk mendesakka pemenuhan keinginan-keingian hidupnya;jika tidak segera mencapai apa yang inginn dicapainya,diinginkannya manusia mempersalahkan dirinya ataupun oraang lain(Ellis, 1973,a, h. 175-176).
REBT menekankan bahwaa manusia berfikir,beremosi,dan bertindak secara stimulant.jarang manusia bertindak secara simultan.jarang manusia beremosi tanpa berfikir,sebab perasaan-perasaan biasanya dicetuskan oleh persepsi atas suatu situasi yang spesifik.sebagaimana dinyatakan oleh Ellis(1974) “ketika mereka beremosi,mereka juga berfikir dan bertindak.ketika mereka bertindak ,mereka juga berfikir dan beremosi.ketika mereka berfikir,mereka juga bertindak.dalam rangka memahami tingkah laku menolak diri,orang harus memahami bagaimana seseorang beremosi,berfikir,mempersepsi dan bertindak.untuk memperbaiki pola-pola yang difungsional,seseorang idealnya harus menggunakan metode-metode  perseptual-kognitif,emotif-evocatif dan behaviouristik-redukatif (Ellis,1973a,h 171).
Menurut Ellis,manusia bukanlah makhluk yang sepenuhnya ditentukan secara biologis dan didorong oleh naluri-naluri.ia melihat individu sebagai unik dan memiliki kekuatan untuk memahami keterbatasan-keterbatasan,untuk mengubah pandangan-pandangan dan nilai-nilai dasar yang telah diintroyeksikannya secara tidak kritis pada masa kanak-kanak dan untuk mengatasi kecendrungan-kecendrunga menolak diri sendiri.orang-orang memiliki kesanggupan untuk mengonfrontasikan sistem-sistem nilainya sendiri dan mereinduktrinasi diri dengan keyakinan-keyakinan,gagasan-gagasan tingkah laku,dan nilai-nilai yang berbeda sebagai akibatnya,mereka akan bertingkah laku yang berbeda dengan car mereka bertingkah laku dimasa lampau.jadi,karena bisa berfikir dan bertindak sampai menjadikan dirinya berubah,mereka bukan korban-korban pengkondisian  masa lampau yang pasif.
 Reaksi emosional seseorang sebagian besar disebabkan oleh evaluasi, interprestasi dan filosofi yang didasari maupun tidak disadari oleh individu. hambatan emosional adalah akibat dari cara berpikir yang tidak logis dan penuh prasangka.berpikir irrasional itu diawali dari berpikir yang tidak logis yang diperoleh oleh orang tua dan kultur tempat dibesarkan.

C.     Peran dan Fungsi Konselor
Aktivitas-aktivitas terapeutik utama TRE dilaksanakan dengan maksud utama yaitu membantu klien untuk membebaskan diri dari gagasan-gagasan  yang tidak logis dan untuk belajar gagasan-gagasan yang logis sebagai penggantinya sasarannya adalah menjadikan klien menginternalisasi suatu filsafat hidup yang rasional sebagaimana dia menginternalisasi keyainan-keyakinan dokmatis yang irasional dan takhayul yang berasal dari orang tuanya maupun dari kebudayaannya.
Konselor Rasional Emotif Behaviour terapi diharapkan dapat memberikan penghargaan positif tanpa syarat kepada klien atau yang disebutnya unconditional self-acceptance yaitu penerimaan diri tanpa syarat bukan dengan syarat (conditioning regard). Menurut Rasional Emotif Behaviour Terapi peranan konselor adalah :
1.      Konselor lebih edukatif-direktif kepada klien yaitu dengan banyak memberikan cerita dan penjelasan khususnya pada tahap awal.
2.      Mengkonfrontasikan masalah klien secara langsung.
3.      Menggunakan Pendekatan yang dapat memberi semangat dan memperbaiki masalah klien, kemudian memperbaiki mereka untuk dapat mendidik dirinya sendiri.
4.      Dengan gigih dan berulang-ulang dalam menekankan bahwa ide irrasional yang menyebabkan hambatan emosional pada klien.
5.      Menyerukan klien menggunakan kemampuan rasional (rasional power) dari pada emosinya.
6.      Menggunakan pendekatan didaktik dan filosofis
7.      Menggunakan humor sebagai jalan mengkonfrontasikan berpikir secara irasional
D.    Teknik-teknik terapi
1.      Teori A-B-C tentang kepribadian
Teori A-B-C tentang kepribadian sangatlah penting bagi teori dan praktik REBT. A adalah keberadaan suatu fakta, suatu peistiwa, tingkah laku atau sikap sesorang. C adalah konsekuensi atau reaksi emosional seseorang; reaksi ini bisa layak dan bisa pula tidak layak . A ( Peristiwa yang mengaktifkan ) buka penyebab timbulnya C ( Konsekensi emosional ). alih-alih, B yaitu keyakinan individu tentang A, yang menjadi penyebab C, yakni reaksi emosional. misalnya, jika sesorang memahami depresi sesudah perceraian, bukan perceraian itu sendiri yang menjadi penyebab timbulnya reaksi depresif, melainkan keyakinan orang itu tentang perceraian sebagai kegagalan, penolakan atau kehilangan teman hidup, Ellis bertahan bahkan keyakinan akan penolakkan dan kegagalan ( Pada B ) adalah yang menyebabkan depresi ( Pada C ), jadi, bukan peristiwa perceraian yang sebenarnya ( pada A ). jadi manusia bertanggung jawab atas penciptaan reaksi-reaksi emosional dan gangguan-gangguannya sendiri.

2.      Teori Kepribadian A-B-C-D-E
Salah satu teori utama mengenai kepribadian yang dikemukakan oleh Albert Ellis dan para penganut Rational Emotive Therapy adalah apa yang disebut Teori A-B-C-D-E. teori ini merupakan central dari teori dan praktik REBT.
Secara umum dapat dijelaskan pada bagan sebagai berikut :

Komponen
Proses
A
Activy, or Action, or Agent.
Hal-hal, situasi, kegagalan, peristiwa yang mendahului atau yang mengerakkan individu
External event
Kejadian diluar atau sekitar individu.
iB




rB
Irrational beliefs, yakni keyakinan irrasional atau tidak layak terhadap kejadian ekternal ( A )



Rational Beliefs, yakni keyakinan-keyakinan yang rasioanal atau layak dan secara empirik mendukung kejadian eksternal ( A )
Self-verbaizations, terjadi dalam diri individu, yakni apa secara terus menerus ia dikatakan berhubungan dengan A terhadap dirinya
Ic




rC
Irrational Consequences, yaitu konsekuens-konsekuensi irasioanal atau tidak layak yang berasal dari ( A).


Rational or Reasonable consequences, yaitu konsekuensi-konsekuensi yang rasional atau layak yag dianggap berasal dari Ri (rB= keyakinan yang rasional).
Rational Beliefs, yakni keyakinan-keyakinan yang rasional atau layak dan secara empirik mendukung kejadian eksternal ( A )
D
Dispute Irrational beliefs, yakni keyakinan-keyakinan yang irasional dalam diri individu saling bertentangan ( disputing ).
Validate or invalidate self verbalizations, yakni suatu proses self-verbalizations dalam diri individu, apakah valid atau tidak.
CE
Cognitive Effect of Disputing, yakni efek kognitif terjadi dari pertentangan dalam keyakinan irasional.
Change Self-Verbalization, terjadinya perubahan dalam verbalisasi dari pada individu.
BE
Behavioral Effect of Disputing, yakni efek dalam perilaku yang tejadi dari pertentangan dalam keyakinan-keyakinan irasional diatas
Change behavior, yakni terjadinya perubahan tingkah laku dalam diri individu.

E.     Tujuan tujuan terapeutik
Ellis (1973a) menunjukkan bahwa banyak jalan yang digunakan dalam TRE yang disarankan kepada satu tujuan utama. Menurut  Ellies  tujuan utama psikoterapis yang lebih baik adalah menunjukkan kepada klien bahwa verbalisasi-verbalisasi diri mereka telah dan masih merupakan sumber utama dari gangguan gangguan emosional yang dialami oleh merika. TRE mendorong suatu reevaluasi filosofis dan ediologis berlandasan asumsi bahwa masalah-masalah manusia berakar secara filosofis. Jadi TRE tidak bisa diarahkan semat-mata kepada penghapusan gejala, teapi untuk mendorong klien agar menguji secara kritis nilai-nilai dirinya yang paling dasar. TRE bergerak keseberang penghapusan gejala, dalam arti tujuan utama proses terapiotiknya adalah membantu klien untuk membebaskan dirinya sendiri dari gejala-gejala yang dilaporkan dan yang tidak dilaporkan kepada terapis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar